Genre : Slice Of Life
Tokoh :
- Ayah
- Shinta
- Jono
- Toto
- Bagus
- Riri
Suara : (ayam berkokok, gemericik air, suara2 alam)
Narasi : pagi hari yang sama sperti biasanya, pagi yang cerah dengan awan yang teduh dan syahdu. Suasana alam begitu terasa, karena rumah Shinta berada diperdesaan yang dikelilingi oleh alam yang masih begitu asri. Desa Shinta cukup jauh dari kota, bila berjalan kaki, membutuhkan waktu selama 30 menit perjalanan untuk mencapai kota.
Ayah : “ayo Shinta bersiap untuk berangkat kesekolah”
Shinta: “iya iya, Ayah gak liat apa, Shinta udah pake sepatu gini, oh iya ya Ayah kan buta, jadi gak bisa liat (nada mencela )”
Jono : “heh Shinta !, jangan berbicara seperti itu, itu gak sopan tau gak !! (marah) ”
Shinta : “bodo amat lah kak”
Ayah : “biarkan saja jon, emang keadaan Ayah seperti ini, Ayah tidak kecewa dengan keadaan ini”
Shinta : “emang iya Ayah gak kecewa, tapi Shinta yang kecewa dan malu yah !! (kasar), setiap hari Shinta selalu saja diejek oleh teman teman karena punya Ayah yg buta !! Shinta malu yah !!
Ayah : “tapi bukan Ayahyang minta untuk seperti ini nak, ini adalah anugerah dari tuhan (lembut)”
Shinta : “ anugerah dari mananya, ini musibah ! “
Jono : “ beraninya kamu ngomong gitu ke Ayah kamu ! (keras) “
Ayah : “ gapapa kok jon, Shinta cuman masih belum bisa nerima keadaan Ayah selama ini (lembut), ayo diminum dulu susunya sebelum berangkat (bawa susu dalam gelas sambil jalan).
Suara : nabrak meja kemudian gelas pecah.
Shinta : “tuhkan, gitu aja masih nabrak, makanya jalan pake mata haha (ngeselin)”
Jono : “ benar benar gak tau sopan santun kamu shin !! (ngomel)”
Shinta : “bodo amat !!, Shinta berangkat sekolah dulu ya (ngeselin)” (suara sepatu pergi)
Ayah : “ mari bantu Ayah jon untuk bangun”
Jono : “oh iya yah, mari saya bantu”
Narasi : Shinta berjalan menuju sekolah, Shinta menempuh perjalan yang cukup jauh untuk mencapai sekolah dikota, maklum saja Shinta tidak mempunyai kendaraan untuk membatu mobilitasnya. Setelah perjalan cukup jauh, sampailah Shinta di sekolah SMA N 1 BANDUNG. Sekolah favourite dibandung. Shinta merupakan murid beasiswa karena prestasinya sewaktu smp dulu. Shinta memang murid teladan dan mempunyai banyak prestasi di sekolah.
Suara : riuh dikelas, kemudian ada suara pintu kebuka
Suara : suara kaki jalan
Toto : “eh liat tuh anaknya orang buta haha, eh awas nabrak nanti”
Bagus : “ haha bukan nabrak lagi, awas tuh kecebur sungai haha”
Toto : “ kok kecebur sungai ? kan dikelas gak ada sungai ?”
Bagus : “ yaelahhh, terserah lu dah haha “
Narasi : Shinta hanya bisa murung melihat hinaan teman temannya yang terlihat begitu senang menghinanya. Kemudia Shinta duduk dibagarisan depan, maklum saja, dibarisan belakang berisi teman teman yang selalu menghina dan mengejeknya. Tidak berapa lama datanglah Riri yang merupakan perempuan paling cantik dikelas. Dia selalu menjadi primadona kelas karena parasnya.
Suara : pintu terbuka
Riri : ”selamat pagi teman teman” (gembira)
Teman - teman : “selamat pagi riri” (serntak)
Riri : “eh eh liat dah, ada anaknya Ayah buta (tertawa), urusin aja Ayah lu sana yang gak bisa ngeliat itu haha”
Teman2 : “iya sana haha” (serentak,tertawa)
Bagus : “haha udah jgn sekolah lagi, sana sana urusin Ayah lu itu”
Suara : nangis
Bagus : “yah dia nangis, cengeng bgt sih !”
Toto : “yaelahhh, udah kaya nonton drama korea aja sih, nangis terus, cengeng cengeng !”
Nina : “heh kalian jangan seperti itu !, kalian seperti gak punya hati saja…
Bagus : yaelah apaan sih lu nina, gak jelas banget, udah jangan sok belain dah !
Nina : udah shin jangan di dengerin ya…
Shinta : berisik kamu !, aku benci kalian semua !
Narasi : karena kesal, Shinta pun berlari meninggalkan kelas untuk menyediri dan menghindar dari ejekan teman temanya. Kemudian terdengar suara Ayahnya (suara tongkat)
Ayah : Shinta… Shinta, apakah itu kamu ??
Shinta : (kaget) lah kok Ayah disini mau apa ? (kesal)
Ayah : Ayah cuman ingin mengantarkan bekal siangmu, tadi pagi pagi sekali Ayah sudah buat tapi lupa untuk memberikan padamu.
Shinta : apaan sih yah, gimana kalu nanti teman2 lihat Ayah dating kesekolah ?? (kesal)
Ayah : Ayah cuman sebentar kok, ini makananya…
Shinta : ahhh (menampar kotak bekalnya) (suara)
Ayah : kenapa nak ??
Shinta : Shinta benci sama Ayah !! (S : kabur lari)
Ayah : tunggu nak…
Narasi : Sore pun tiba, matahari sudah hampir terbenam di ufuk barat. Dan Shinta baru pulang dari sekolah dengan wajah yang lesu, kemudian tanpa salam langsung masuk kedalam kamarnya.
Suara : (brakkk pintu tertutup kencang)
Ayah : Shinta udah pulang ya, kok Ayah gak tau ya kalo Shinta udah pulang ?
Shinta : berisik ! (teriak)
Ayah : ayo keluar, kita siap siap buat makan bersama
Shinta : iya nanti, Shinta gak laper !
Ayah : owh yasudah, Ayah tunggu ya
Cukup lama dikamar, Shinta pun keluar untuk makan bersama Ayah dan Kakaknya.
Ayah : mari makan Shinta.
Shinta : iya ini mau makan !
Jono : heh santai dong jawabnya, Ayah Tanya baik baik juga !
Ayah : sudah sudah tidak kenapa2 kok…
Jono : jgn begitu terus yah, nanti dia makin menjadi
Shinta : apaan sih, sok tau bgt.
Jono : eh kalo dibilangin orangtua tuh dengerin !
Shinta : udah ah terserah.
Suara : makan piring piring
Shinta : udah ah, aku udah gak mood lagi makan…
Ayah : tapi itu belum habis nak…
Shinta : biarin ah (ke kamar)
Suara : pintu dibanting
Narasi : Keesokan pagi, Ayah Shinta hendak menghampiri Shinta dikamarnya.
Suara : pintu kamar di ketuk.
Ayah : Shinta, ayo bangun, sarapan. Nanti terlambat datang kesekolah. Ayo bangun Shinta…
Narasi : setelah beberapa lama, masih tak ada jawaban dari kamar Shinta.
Ayah : (bergumam) hmm apa mungkin Shinta masih tertidur pulas ? …. Shinta ! bangun nak..
Narasi : masih tak ada jawaban apapun dari kamar Shinta. Ayah Shinta mencoba membuka gagang pintu. Dan ternyanya, pintu tersebut tidak terkunci! (jengjengjeng). Ayah masuk kedalam kamar Shinta…. Ternyata Shinta tak ada dikamarnya.
Ayah : (teriak) Shinta ! Shinta ! …. (bergumam) Shinta.. kemana kamu nak ? apa mungkin sudah berangkat kesekolah ? mungkinaku harus mencarinya disana , sambil aku membawakan bekal sarapan untuknya.. hmm kasian dia pagi ini belum sarapan.
Narasi : Ayah pun berangkat kesekolah mencari Shinta. Seampainya Ayahdisekolah, Ayah langsung menanyakan keberadaan Shinta kepada teman-teman sekolahnya. Namun tak ada yang tahu dimana Shinta. Hari itu pun Shintatidak masuk sekolah. Tidak ada yang tahu dimana Shinta berada.Pada malam hari pun Shinta tidak pulang kerumah. Ayah mulai cemas dengan keadaan anaknya.
Sound : suara detik jam . . .
Ayah : Kemana Shintapergi seharian ini, sudah jam 8 malam, tapi dia masih belum pulang kerumah
Kakak : buat khawatir aja sih dia (geram)
Ayah : bagaimana kalo kita mencarinya, nanti kita berpencar, supaya cepat menemukanya
Kakak : Iya yah, Ayo kita cari, tapi apa tidak masalah bila mencari sendirian ?
Ayah : tenang saja nak, Ayah sudah terbiasa berjalans sendirian…
Narasi : merekapun berpencar untuk mencari keberadaan Shinta yang entah ada dimana. Sudah dua jamAyah mecari Shintakota yang ramai (sound : kendaraan). Terliat wajah kelelahan dicampur dengan rasa khawatir seorang Ayah yang begitu sayang dengan anaknya. Entah sudah berapa ratus kilo meter yang sudah ditempuh Ayah dengan kondisi seperti itu demi anaknya.
Ayah : (kelelahan) Dimana kamu nak ?, Ayah sudah tidak kuat lagi berjalan
Suara : (menangis perempuan)
Ayah : aku seperti mendengar suara menangis, dan aku kenal suara ini…, Shinta ?? apakah itu kamu nak ?
Shinta : Ayah? Kenapa Ayah ada disini? Tinggalkan aku yah, aku bisa hidup tanpa Ayah yang cacat ! pergi !
Ayah : kamu kenapa nak menangis ? ada apa ?
Shinta : tidak usah memperdulikan aku lagi, aku bisa mencari hidup ku sendiri, aku bisa berusaha sendiri, tanpa bantuan siapapun, aku bisa melakukanya !! aku benci Ayah !!
Narasi : Shinta lari meninggalkan Ayahnya. Ayahnya pun mengejar anaknnya dengan susah payah. Begitu sulitnya Ayah untuk berlari dengan kondisi seperti itu. Tapi hal yang tak terduga harus terjadi, Ayah terperosok kedalam kali yang saat itu debit airnya sedang tinggi dan arus airnya sedang deras. Namun dengan sigap, Ayah berpegangnya pada sebuah tumpukan kayu yang berserakan di tepi kali. (Suara: Tolong !! Tolong !!) Ayah meminta tolong, berharap ada yang mendegar, siapapun itu. (Shinta: Ayah !! Ayah, pegang tanganku, mari Shinta bantu naik), ternyata ada Shinta yang berusaha untuk membantu Ayahnya.
Shinta: bertahan yah, pengan tangan Shinta!
Ayah : kamu tidak akan kuat nak, arusnya sangat kuat, nanti kamu bisa ikut terbawa !
Shinta : tidak yah, Shinta pasti bisa menarik Ayah dari sana !, cepat yah pegang tanganku !!
Ayah : shinta…. Ayah merasa bahagia, bisa berjuang sejauh ini. Kamu mungkin tidak begitu peduli dengan keadaan Ayah. Namun kamu harus ketahui, perjuangan Ayah untuk terus menyayangimu dan merawatmu sampai saat ini.Ayah selalu berusaha untuk bisa menjadikan keluarga kita, menjadi keluarga yang bahagia dan sejahtera. Maaf nak, Ayah sudah mengecewakanmu, maaf nak, Ayah tidak bisa mengantarkan dan melihatmu kepada kesuksesan…
Terimakasih nak, kamu sudah mejadikan hidup Ayah lebih bermakna…
Selamat tinggal Shinta…
Shinta : yah jangan yah !! Ayah jangan tinggalkan Shinta ! AKU SAYANG AYAH !!
Ayah : terima kasih anakku, Ayah bangga padamu….
Narasi : saat itu juga, Ayah melepaskan peganganya, dan harus terbawa oleh arus kali yang deras. Ayah hanya tenang dan pasrah. Terlihat senyuman kecil dari bibirnya. Terlihat pula, wajah penuh bahagia yang terus terpancar menggiringi kerpergianya.
Shinta : AYAH !!!! JANGAN TINGGALKAN SHINTA !!! SHINTA SAYANG AYAHHHHH !!! (menangis)
Narasi : percuma saja semua teriakan Shinta, Ayahnya pun semakin lama semakin menghilang terbawa arus. Shinta hanya bisa melihat kepergian ayanya dengan tangis. Shinta begitu menyesal dan merasa bodoh selama ini, dia hanya memikirkan dirinya sendiri, tanpa memikirkan keadaan dan perjuangan Ayahnya. Kini Shinta harus menjalani hidup tanpa seorang Ayah yang sangat hebat, Ayah yang sangat tegar dan sabar.
Tidak berapa lama kakak shinta datang, dan merasa bingun dengan apa yang sudah terjadi…
Kakak : shinta ada apa kamu menangis ?
Shinta : a a a ayah sudah pergi untuk selamanya kak… (nangis)
Narasi : sambil menahan tangis, kakak memeluk shinta…
Kakak : Inilah akhir dapi perjuangan ayah kita shin, terimkasih kepadanya yang sudah selalu ada untuk kita… mulai sekarang kita tidak bisa merasakan kasih sayang seorang ayah yang besar kapada anaknya. Mulai sekarang juga kita harus terus berjuang, dan membagakan ayah kita…
Shinta : Terimakasih Ayah, aku berjanji untuk terus membuat Ayah tersenyum dan bahagia di alam sana…
Pembuat : Tirta and Khafia












